Rabu, 30 Oktober 2013

Kumpulan Cerita Daerah di Indonesia (2)

Berukut ini merupakan beberapa cerita daerah di Indonesia bagian 2






Dongeng Indonesia 5
Koleksi Angie, pencinta buku dari negara Kangguru
1. Laba-laba, kelinci dan sang bulan
2. Loro Jonggrang
3. Lutung Kasarung
4. Malin Kundang
5. Manik Angkeran

Laba-laba, kelinci dan sang bulan

Sang bulan terlihat sedih karena sudah lama ia melihat banyak
kejadian di dunia dan juga melihat banyak ketakutan yang
dialami oleh manusia. Untuk membuat manusia menjadi tidak
takut, sang bulan berupaya mengirimkan pesan kepada
manusia melalui temannya sang laba-laba yang baik hati.
"Hai sang laba-laba, manusia di bumi sangatlah takut untuk
mati dan hal itu membuat mereka menjadi sangat sedih.
Cobalah tenangkan manusia-manusia itu bahwa cepat atau
lambat manusia pasti akan mati, sehingga tidak perlu mereka
untuk merasa sedih", seru sang Bulan kepada temannya sang
laba-laba.
Dengan perlahan-lahan sang laba-laba turun kembali ke bumi,
dan dengan sangat hati-hati ia meniti jalan turun melalui
untaian sinar bulan dan sinar matahari. Di perjalannnya turun
ke bumi, sang laba-laba bertemu dengan si kelinci.
"Hendak kemanakah engkau hai sang laba-laba ?" tanya si
kelinci penuh rasa ingin tahu. "Aku sedang menuju bumi untuk
memberitahukan manusia-manusia pesan dari temanku sang
Bulan" sahut sang laba-laba menjelaskan. "oohh
perjalananmu sangatlah jauh wahai sang laba-laba.
Bagaimana jika kamu memberitahukan pesan sang Bulan
kepadaku dan aku akan membantumu memberitahukan
kepada manuisa-manusia itu" seru si kelinci. "hemm.. baiklah,
aku akan memberitahukan pesan dari sang Bulan kepadamu."
jawab sang laba-laba. "Sang Bulan ingin memberitahukan
manusia-manusia di bumi bahwa mereka akan cepat atau
lambat mati ........." lanjut sang laba-laba.
Belum habis sang laba-laba menjelaskan, si kelinci sudah
meloncat pergi sambil menghapalkan pesan sang laba-laba. "
Yah, beritahukan manusia bahwa mereka semua akan mati"
serunya sambil meloncat-loncat dengan cepatnya. Sang
Kelinci memberitahukan manusia pesan yang diterimanya.
Manusia menjadi sangat sedih dan ketakutan.
Sang laba-laba segera kembali kepada sang Bulan dan
memberitahukan apa yang terjadi. Sang bulan sangat kecewa
dengan si kelinci, dan ketika si kelinci kembali sang bulan
mengutuk si kelinci karena telah lalai mendengarkan pesan
sang Bulan dengan lengkap.
Karena itu sampai saat ini si kelinci tidak dapat bersuara lagi.
Bagaimana dengan sang laba-laba? Sang bulan menugaskan
sang laba-laba untuk terus menyampaikan pesan kepada
manusia-manusia di bumi tanpa boleh menitipkan pesannya
kepada siapapun yang dijumpainya. Oleh karena itu sampai
pada saat ini kita masih dapat melihat sang laba-laba dengan
tekunnya merajut pesan sang bulan di pojok-pojok ruangan.
Namun berapa banyakkah dari kita manusia yang telah
melihat pesan sang Bulan tersebut?




Loro Jonggrang

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar
yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan
damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan
Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging.
Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para
tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan
Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh
Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan
kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan
dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada
rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti
dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa,
Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro
Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik
nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir
Bandung Bondowoso.
Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. "Kamu
cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya
Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro
Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.
"Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung
menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang
dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang
menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia
menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan
membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk
mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang
memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.
"Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya
Loro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi
istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya?
Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?".
"Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta
dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?"
teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam
waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Loro
Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu
Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat
1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.
"Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan
bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu,
siapkan peralatan yang kubutuhkan!"
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri
di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebarlebar.
"Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara
menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin
menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah
mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami
lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun
seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera
bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masingmasing.
Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun
hampir mencapai seribu buah.
Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari
kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh
pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang
dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya
berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat
bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian
dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung...
dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit
dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar
yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari
akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh
kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin
tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu.
Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke
tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro
Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata
jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru
Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat
yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui
kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...",
kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang.
"Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil
mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro
Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai
saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah
Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.



Lutung Kasarung

Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya
sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun
tahta," kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak
setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku
putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai
penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang
bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak
membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia
menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari.
Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga
tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam.
Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya
tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi
seorang Ratu !" ujar Purbararang.
Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan
Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih
berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk
Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan
Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti
akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar
Purbasari.
Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut
ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera
tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung
kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan
mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan
bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap
aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia
sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan
bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama
kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah
sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung
obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan
memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya
bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama
setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya.
Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik
kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia
bercermin ditelaga tersebut.
Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di
hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal.
Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya
dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat
adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau
kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut.
"Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !",
kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena
terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut
Purbasari lebih panjang.
"Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan
tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil
mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan
kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung
Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan
menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-
bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".
Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba
terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah
menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan,
lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu
seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui
kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon
maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum.
Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah
kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang
pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu
mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.




Malin Kundang

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di
pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari
ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan,
sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri
seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1
tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke
kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan
posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak
yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan
memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang
mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka
terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya
dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan
dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk
membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di
negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke
kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang
yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang
kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya.
Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang,
tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang
akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah
mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin
segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya.
"Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang
berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung
halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang
air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan
diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di
kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran
pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah
perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di
serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para
pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut.
Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di
kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang
sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut,
karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi
di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga
akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah
pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan
menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di
desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di
desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian
yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa
yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang
kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak
buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi
kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis
untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah
menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin
Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya
telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari
pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang
ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya
melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah
disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu
Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat
kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat
ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia
yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin
Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya.
Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan
kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia
dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku,
mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?",
katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang
terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan
ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu
diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin
Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak
mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah
tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu
ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang
pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar
mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh
anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga
anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang
memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil
berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia
menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin
bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang
menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin
Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya
berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Pesan Moral : Sebagai seorang anak, jangan pernah
melupakan semua jasa orangtua terutama kepada seorang
Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya,
apalagi jika sampai menjadi seorang anak yang durhaka.
Durhaka kepada orang tua merupakan satu dosa besar yang
nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.





Manik Angkeran

Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang
Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal
kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru
menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik.
Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang
anak yang mereka namai Manik Angkeran.
Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan
pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu
suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa
mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan
berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar
hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk
berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk
memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar
suara, "Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta
karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih.
Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi
sedikit hartanya."
Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala
rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia
duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca
mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama
kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud
kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari
sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima
kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang
didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan
harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama
kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran
sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra
menolak untuk membantu anakya.
Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu
didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk
sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak
pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya
membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya
tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran
membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia
melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud
kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan
harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk
mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan
hukum karma."
Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata
di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam
hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan
secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga
beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera
melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena
kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu
sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.
Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra
tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan
memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga
menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti
sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat
memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan,
dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi
Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga
mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.
"Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini," katanya.
Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul
sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga
menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis
yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu
menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan
pulau Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar