Dongeng
Indonesia 5
Koleksi
Angie, pencinta buku dari negara Kangguru
1. Laba-laba,
kelinci dan sang bulan
2. Loro
Jonggrang
3. Lutung
Kasarung
4. Malin
Kundang
5. Manik
Angkeran
Laba-laba,
kelinci dan sang bulan
Sang bulan terlihat sedih
karena sudah lama ia melihat banyak
kejadian di dunia dan juga
melihat banyak ketakutan yang
dialami oleh manusia.
Untuk membuat manusia menjadi tidak
takut, sang bulan berupaya
mengirimkan pesan kepada
manusia melalui temannya
sang laba-laba yang baik hati.
"Hai sang laba-laba,
manusia di bumi sangatlah takut untuk
mati dan hal itu membuat
mereka menjadi sangat sedih.
Cobalah tenangkan manusia-manusia
itu bahwa cepat atau
lambat manusia pasti akan
mati, sehingga tidak perlu mereka
untuk merasa sedih",
seru sang Bulan kepada temannya sang
laba-laba.
Dengan perlahan-lahan sang
laba-laba turun kembali ke bumi,
dan dengan sangat
hati-hati ia meniti jalan turun melalui
untaian sinar bulan dan
sinar matahari. Di perjalannnya turun
ke bumi, sang laba-laba
bertemu dengan si kelinci.
"Hendak kemanakah
engkau hai sang laba-laba ?" tanya si
kelinci penuh rasa ingin
tahu. "Aku sedang menuju bumi untuk
memberitahukan
manusia-manusia pesan dari temanku sang
Bulan" sahut sang
laba-laba menjelaskan. "oohh
perjalananmu sangatlah
jauh wahai sang laba-laba.
Bagaimana jika kamu
memberitahukan pesan sang Bulan
kepadaku dan aku akan
membantumu memberitahukan
kepada manuisa-manusia
itu" seru si kelinci. "hemm.. baiklah,
aku akan memberitahukan
pesan dari sang Bulan kepadamu."
jawab sang laba-laba.
"Sang Bulan ingin memberitahukan
manusia-manusia di bumi
bahwa mereka akan cepat atau
lambat mati
........." lanjut sang laba-laba.
Belum habis sang laba-laba
menjelaskan, si kelinci sudah
meloncat pergi sambil
menghapalkan pesan sang laba-laba. "
Yah, beritahukan manusia
bahwa mereka semua akan mati"
serunya sambil
meloncat-loncat dengan cepatnya. Sang
Kelinci memberitahukan
manusia pesan yang diterimanya.
Manusia menjadi sangat
sedih dan ketakutan.
Sang laba-laba segera
kembali kepada sang Bulan dan
memberitahukan apa yang
terjadi. Sang bulan sangat kecewa
dengan si kelinci, dan
ketika si kelinci kembali sang bulan
mengutuk si kelinci karena
telah lalai mendengarkan pesan
sang Bulan dengan lengkap.
Karena itu sampai saat ini
si kelinci tidak dapat bersuara lagi.
Bagaimana dengan sang
laba-laba? Sang bulan menugaskan
sang laba-laba untuk terus
menyampaikan pesan kepada
manusia-manusia di bumi
tanpa boleh menitipkan pesannya
kepada siapapun yang
dijumpainya. Oleh karena itu sampai
pada saat ini kita masih
dapat melihat sang laba-laba dengan
tekunnya merajut pesan
sang bulan di pojok-pojok ruangan.
Namun berapa banyakkah
dari kita manusia yang telah
melihat pesan sang Bulan
tersebut?
Loro
Jonggrang
Alkisah, pada dahulu kala
terdapat sebuah kerajaan besar
yang bernama Prambanan.
Rakyatnya hidup tenteran dan
damai. Tetapi, apa yang
terjadi kemudian? Kerajaan
Prambanan diserang dan
dijajah oleh negeri Pengging.
Ketentraman Kerajaan
Prambanan menjadi terusik. Para
tentara tidak mampu
menghadapi serangan pasukan
Pengging. Akhirnya,
kerajaan Prambanan dikuasai oleh
Pengging, dan dipimpin
oleh Bandung Bondowoso.
Bandung Bondowoso seorang
yang suka memerintah dengan
kejam. "Siapapun yang
tidak menuruti perintahku, akan
dijatuhi hukuman
berat!", ujar Bandung Bondowoso pada
rakyatnya. Bandung
Bondowoso adalah seorang yang sakti
dan mempunyai pasukan jin.
Tidak berapa lama berkuasa,
Bandung Bondowoso suka
mengamati gerak-gerik Loro
Jonggrang, putri Raja
Prambanan yang cantik jelita. "Cantik
nian putri itu. Aku ingin
dia menjadi permaisuriku," pikir
Bandung Bondowoso.
Esok harinya, Bondowoso
mendekati Loro Jonggrang. "Kamu
cantik sekali, maukah kau
menjadi permaisuriku ?", Tanya
Bandung Bondowoso kepada
Loro Jonggrang. Loro
Jonggrang tersentak,
mendengar pertanyaan Bondowoso.
"Laki-laki ini
lancang sekali, belum kenal denganku langsung
menginginkanku menjadi
permaisurinya", ujar Loro Jongrang
dalam hati. "Apa yang
harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang
menjadi kebingungan.
Pikirannya berputar-putar. Jika ia
menolak, maka Bandung Bondowoso
akan marah besar dan
membahayakan keluarganya
serta rakyat Prambanan. Untuk
mengiyakannya pun tidak
mungkin, karena Loro Jonggrang
memang tidak suka dengan
Bandung Bondowoso.
"Bagaimana, Loro
Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya
Loro Jonggrang mendapatkan
ide. "Saya bersedia menjadi
istri Tuan, tetapi ada
syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya?
Ingin harta yang
berlimpah? Atau Istana yang megah?".
"Bukan itu, tuanku,
kata Loro Jonggrang. Saya minta
dibuatkan candi, jumlahnya
harus seribu buah. "Seribu buah?"
teriak Bondowoso.
"Ya, dan candi itu harus selesai dalam
waktu semalam."
Bandung Bondowoso menatap Loro
Jonggrang, bibirnya
bergetar menahan amarah. Sejak saat itu
Bandung Bondowoso berpikir
bagaimana caranya membuat
1000 candi. Akhirnya ia
bertanya kepada penasehatnya.
"Saya percaya tuanku
bias membuat candi tersebut dengan
bantuan Jin!", kata
penasehat. "Ya, benar juga usulmu,
siapkan peralatan yang
kubutuhkan!"
Setelah perlengkapan di
siapkan. Bandung Bondowoso berdiri
di depan altar batu. Kedua
lengannya dibentangkan lebarlebar.
"Pasukan jin,
Bantulah aku!" teriaknya dengan suara
menggelegar. Tak lama kemudian,
langit menjadi gelap. Angin
menderu-deru. Sesaat
kemudian, pasukan jin sudah
mengerumuni Bandung
Bondowoso. "Apa yang harus kami
lakukan Tuan ?",
tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun
seribu candi," pinta
Bandung Bondowoso. Para jin segera
bergerak ke sana kemari,
melaksanakan tugas masingmasing.
Dalam waktu singkat
bangunan candi sudah tersusun
hampir mencapai seribu
buah.
Sementara itu, diam-diam
Loro Jonggrang mengamati dari
kejauhan. Ia cemas,
mengetahui Bondowoso dibantu oleh
pasukan jin. "Wah,
bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang
dalam hati. Ia mencari
akal. Para dayang kerajaan disuruhnya
berkumpul dan ditugaskan
mengumpulkan jerami. "Cepat
bakar semua jerami
itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian
dayang lainnya disuruhnya
menumbuk lesung. Dung...
dung...dung! Semburat
warna merah memancar ke langit
dengan diiringi suara
hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar
yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar
sudah menyingsing. "Wah, matahari
akan terbit!" seru
jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh
kita dihanguskan
matahari," sambung jin yang lain. Para jin
tersebut berhamburan pergi
meninggalkan tempat itu.
Bandung Bondowoso sempat
heran melihat kepanikan pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso
mengajak Loro Jonggrang ke
tempat candi. "Candi
yang kau minta sudah berdiri!". Loro
Jonggrang segera menghitung
jumlah candi itu. Ternyata
jumlahnya hanya 999 buah!.
"Jumlahnya kurang satu!" seru
Loro Jonggrang.
"Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat
yang saya ajukan".
Bandung Bondowoso terkejut mengetahui
kekurangan itu. Ia menjadi
sangat murka. "Tidak mungkin...",
kata Bondowoso sambil
menatap tajam pada Loro Jonggrang.
"Kalau begitu kau
saja yang melengkapinya!" katanya sambil
mengarahkan jarinya pada
Loro Jonggrang. Ajaib! Loro
Jonggrang langsung berubah
menjadi patung batu. Sampai
saat ini candi-candi tersebut
masih ada dan terletak di wilayah
Prambanan, Jawa Tengah dan
disebut Candi Loro Jonggrang.
Lutung
Kasarung
Prabu Tapa Agung menunjuk
Purbasari, putri bungsunya
sebagai pengganti.
"Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun
tahta," kata Prabu
Tapa.
Purbasari memiliki kakak
yang bernama Purbararang. Ia tidak
setuju adiknya diangkat
menggantikan Ayah mereka. "Aku
putri Sulung, seharusnya
ayahanda memilih aku sebagai
penggantinya," gerutu
Purbararang pada tunangannya yang
bernama Indrajaya.
Kegeramannya yang sudah memuncak
membuatnya mempunyai niat
mencelakakan adiknya. Ia
menemui seorang nenek
sihir untuk memanterai Purbasari.
Nenek sihir itu memanterai
Purbasari sehingga saat itu juga
tiba-tiba kulit Purbasari
menjadi bertotol-totol hitam.
Purbararang jadi punya
alasan untuk mengusir adiknya
tersebut. "Orang yang
dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi
seorang Ratu !" ujar
Purbararang.
Kemudian ia menyuruh
seorang Patih untuk mengasingkan
Purbasari ke hutan.
Sesampai di hutan patih tersebut masih
berbaik hati dengan
membuatkan sebuah pondok untuk
Purbasari. Ia pun
menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan
Putri. Cobaan ini pasti
akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti
akan selalu bersama
Putri". "Terima kasih paman", ujar
Purbasari.
Selama di hutan ia
mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara
hewan tersebut
ada seekor kera berbulu
hitam yang misterius. Tetapi kera
tersebut yang paling
perhatian kepada Purbasari. Lutung
kasarung selalu
menggembirakan Purbasari dengan
mengambilkan bunga –bunga
yang indah serta buah-buahan
bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan
purnama, Lutung Kasarung bersikap
aneh. Ia berjalan ke
tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia
sedang memohon sesuatu
kepada Dewata. Ini membuktikan
bahwa Lutung Kasarung
bukan makhluk biasa. Tidak lama
kemudian, tanah di dekat
Lutung merekah dan terciptalah
sebuah telaga kecil,
airnya jernih sekali. Airnya mengandung
obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung
Kasarung menemui Purbasari dan
memintanya untuk mandi di
telaga tersebut. "Apa manfaatnya
bagiku ?", pikir
Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama
setelah ia menceburkan
dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya.
Kulitnya menjadi bersih
seperti semula dan ia menjadi cantik
kembali. Purbasari sangat
terkejut dan gembira ketika ia
bercermin ditelaga
tersebut.
Di istana, Purbararang
memutuskan untuk melihat adiknya di
hutan. Ia pergi bersama
tunangannya dan para pengawal.
Ketika sampai di hutan, ia
akhirnya bertemu dengan adiknya
dan saling berpandangan.
Purbararang tak percaya melihat
adiknya kembali seperti
semula. Purbararang tidak mau
kehilangan muka, ia
mengajak Purbasari adu panjang rambut.
"Siapa yang paling
panjang rambutnya dialah yang menang !",
kata Purbararang. Awalnya
Purbasari tidak mau, tetapi karena
terus didesak ia meladeni
kakaknya. Ternyata rambut
Purbasari lebih panjang.
"Baiklah aku kalah,
tapi sekarang ayo kita adu tampan
tunangan kita, Ini
tunanganku", kata Purbararang sambil
mendekat kepada Indrajaya.
Purbasari mulai gelisah dan
kebingungan. Akhirnya ia
melirik serta menarik tangan Lutung
Kasarung. Lutung Kasarung
melonjak-lonjak seakan-akan
menenangkan Purbasari.
Purbararang tertawa terbahak-
bahak, "Jadi monyet
itu tunanganmu ?".
Pada saat itu juga Lutung
Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba
terjadi suatu keajaiban.
Lutung Kasarung berubah
menjadi seorang Pemuda
gagah berwajah sangat tampan,
lebih dari Indrajaya.
Semua terkejut melihat kejadian itu
seraya bersorak gembira.
Purbararang akhirnya mengakui
kekalahannya dan
kesalahannya selama ini. Ia memohon
maaf kepada adiknya dan
memohon untuk tidak dihukum.
Purbasari yang baik hati
memaafkan mereka. Setelah
kejadian itu akhirnya
mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang
ratu, didampingi oleh seorang
pemuda idamannya. Pemuda
yang ternyata selama ini selalu
mendampinginya dihutan
dalam wujud seekor lutung.
Malin
Kundang
Pada suatu waktu, hiduplah
sebuah keluarga nelayan di
pesisir pantai wilayah
Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari
ayah, ibu dan seorang anak
laki-laki yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi
keuangan keluarga memprihatinkan,
sang ayah memutuskan untuk
mencari nafkah di negeri
seberang dengan mengarungi
lautan yang luas.
Maka tinggallah si Malin
dan ibunya di gubug mereka.
Seminggu, dua minggu,
sebulan, dua bulan bahkan sudah 1
tahun lebih lamanya, ayah
Malin tidak juga kembali ke
kampung halamannya.
Sehingga ibunya harus menggantikan
posisi ayah Malin untuk
mencari nafkah. Malin termasuk anak
yang cerdas tetapi sedikit
nakal. Ia sering mengejar ayam dan
memukulnya dengan sapu.
Suatu hari ketika Malin sedang
mengejar ayam, ia
tersandung batu dan lengan kanannya luka
terkena batu. Luka
tersebut menjadi berbekas dilengannya
dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa,
Malin Kundang merasa kasihan
dengan ibunya yang banting
tulang mencari nafkah untuk
membesarkan dirinya. Ia
berpikir untuk mencari nafkah di
negeri seberang dengan
harapan nantinya ketika kembali ke
kampung halaman, ia sudah
menjadi seorang yang kaya raya.
Malin tertarik dengan
ajakan seorang nakhoda kapal dagang
yang dulunya miskin
sekarang sudah menjadi seorang yang
kaya raya.
Malin kundang mengutarakan
maksudnya kepada ibunya.
Ibunya semula kurang
setuju dengan maksud Malin Kundang,
tetapi karena Malin terus
mendesak, Ibu Malin Kundang
akhirnya menyetujuinya
walau dengan berat hati. Setelah
mempersiapkan bekal dan perlengkapan
secukupnya, Malin
segera menuju ke dermaga
dengan diantar oleh ibunya.
"Anakku, jika engkau
sudah berhasil dan menjadi orang yang
berkecukupan, jangan kau
lupa dengan ibumu dan kampung
halamannu ini, nak",
ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang
air mata.
Kapal yang dinaiki Malin
semakin lama semakin jauh dengan
diiringi lambaian tangan
Ibu Malin Kundang. Selama berada di
kapal, Malin Kundang
banyak belajar tentang ilmu pelayaran
pada anak buah kapal yang
sudah berpengalaman. Di tengah
perjalanan, tiba-tiba
kapal yang dinaiki Malin Kundang di
serang oleh bajak laut.
Semua barang dagangan para
pedagang yang berada di
kapal dirampas oleh bajak laut.
Bahkan sebagian besar awak
kapal dan orang yang berada di
kapal tersebut dibunuh
oleh para bajak laut. Malin Kundang
sangat beruntung dirinya
tidak dibunuh oleh para bajak laut,
karena ketika peristiwa
itu terjadi, Malin segera bersembunyi
di sebuah ruang kecil yang
tertutup oleh kayu.
Malin Kundang
terkatung-katung ditengah laut, hingga
akhirnya kapal yang
ditumpanginya terdampar di sebuah
pantai. Dengan sisa tenaga
yang ada, Malin Kundang berjalan
menuju ke desa yang
terdekat dari pantai. Sesampainya di
desa tersebut, Malin
Kundang ditolong oleh masyarakat di
desa tersebut setelah
sebelumnya menceritakan kejadian
yang menimpanya. Desa
tempat Malin terdampar adalah desa
yang sangat subur. Dengan
keuletan dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin lama
kelamaan berhasil menjadi seorang yang
kaya raya. Ia memiliki
banyak kapal dagang dengan anak
buah yang jumlahnya lebih
dari 100 orang. Setelah menjadi
kaya raya, Malin Kundang
mempersunting seorang gadis
untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang
telah menjadi kaya raya dan telah
menikah sampai juga kepada
ibu Malin Kundang. Ibu Malin
Kundang merasa bersyukur
dan sangat gembira anaknya
telah berhasil. Sejak saat
itu, ibu Malin Kundang setiap hari
pergi ke dermaga,
menantikan anaknya yang mungkin pulang
ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama
menikah, Malin dan istrinya
melakukan pelayaran dengan
kapal yang besar dan indah
disertai anak buah kapal
serta pengawalnya yang banyak. Ibu
Malin Kundang yang setiap
hari menunggui anaknya, melihat
kapal yang sangat indah
itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat
ada dua orang yang sedang
berdiri di atas geladak kapal. Ia
yakin kalau yang sedang
berdiri itu adalah anaknya Malin
Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun
dari kapal. Ia disambut oleh ibunya.
Setelah cukup dekat,
ibunya melihat belas luka dilengan
kanan orang tersebut,
semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia
dekati adalah Malin
Kundang. "Malin Kundang, anakku,
mengapa kau pergi begitu
lama tanpa mengirimkan kabar?",
katanya sambil memeluk
Malin Kundang. Tapi apa yang
terjadi kemudian? Malin
Kundang segera melepaskan pelukan
ibunya dan mendorongnya
hingga terjatuh. "Wanita tak tahu
diri, sembarangan saja
mengaku sebagai ibuku", kata Malin
Kundang pada ibunya. Malin
Kundang pura-pura tidak
mengenali ibunya, karena
malu dengan ibunya yang sudah
tua dan mengenakan baju
compang-camping. "Wanita itu
ibumu?", Tanya istri
Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang
pengemis yang pura-pura
mengaku sebagai ibuku agar
mendapatkan harta
ku", sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan
diperlakukan semena-mena oleh
anaknya, ibu Malin Kundang
sangat marah. Ia tidak menduga
anaknya menjadi anak
durhaka. Karena kemarahannya yang
memuncak, ibu Malin
menengadahkan tangannya sambil
berkata "Oh Tuhan, kalau
benar ia anakku, aku sumpahi dia
menjadi sebuah batu".
Tidak berapa lama kemudian angin
bergemuruh kencang dan
badai dahsyat datang
menghancurkan kapal Malin
Kundang. Setelah itu tubuh Malin
Kundang perlahan menjadi
kaku dan lama-kelamaan akhirnya
berbentuk menjadi sebuah
batu karang.
Pesan
Moral : Sebagai seorang anak, jangan pernah
melupakan semua jasa
orangtua terutama kepada seorang
Ibu yang telah mengandung
dan membesarkan anaknya,
apalagi jika sampai
menjadi seorang anak yang durhaka.
Durhaka kepada orang tua
merupakan satu dosa besar yang
nantinya akan ditanggung
sendiri oleh anak.
Manik
Angkeran
Pada jaman dulu di
kerajaan Daha hiduplah seorang
Brahmana yang benama
Sidi Mantra yang sangat terkenal
kesaktiannya. Sanghyang
Widya atau Batara Guru
menghadiahinya harta
benda dan seorang istri yang cantik.
Sesudah bertahun-tahun
kawin, mereka mendapat seorang
anak yang mereka namai
Manik Angkeran.
Meskipun Manik Angkeran
seorang pemuda yang gagah dan
pandai namun dia
mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu
suka berjudi. Dia sering
kalah sehingga dia terpaksa
mempertaruhkan harta
kekayaan orang tuanya, malahan
berhutang pada orang
lain. Karena tidak dapat membayar
hutang, Manik Angkeran
meminta bantuan ayahnya untuk
berbuat sesuatu. Sidi
Mantra berpuasa dan berdoa untuk
memohon pertolongan
dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar
suara, "Hai, Sidi
Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta
karun yang dijaga seekor
naga yang bernarna Naga Besukih.
Pergilah ke sana dan
mintalah supaya dia mau mernberi
sedikit hartanya."
Sidi Mantra pergi ke
Gunung Agung dengan mengatasi segala
rintangan. Sesampainya
di tepi kawah Gunung Agung, dia
duduk bersila. Sambil
membunyikan genta dia membaca
mantra dan memanggil
nama Naga Besukih. Tidak lama
kernudian sang Naga
keluar. Setelah mendengar maksud
kedatangan Sidi Mantra,
Naga Besukih menggeliat dan dari
sisiknya keluar emas dan
intan. Setelah mengucapkan terima
kasih, Sidi Mantra mohon
diri. Semua harta benda yang
didapatnya diberikan
kepada Manik Angkeran dengan
harapan dia tidak akan
berjudi lagi. Tentu saja tidak lama
kemudian, harta itu
habis untuk taruhan. Manik Angkeran
sekali lagi minta
bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra
menolak untuk membantu
anakya.
Manik Angkeran mendengar
dari temannya bahwa harta itu
didapat dari Gunung
Agung. Manik Angkeran tahu untuk
sampai ke sana dia harus
membaca mantra tetapi dia tidak
pernah belajar mengenai
doa dan mantra. Jadi, dia hanya
membawa genta yang
dicuri dari ayahnya waktu ayahnya
tidur.
Setelah sampai di kawah
Gunung Agung, Manik Angkeran
membunyikan gentanya.
Bukan main takutnya ia waktu ia
melihat Naga Besukih.
Setelah Naga mendengar maksud
kedatangan Manik
Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan
harta yang kau minta,
tetapi kamu harus berjanji untuk
mengubah kelakuanmu.
Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan
hukum karma."
Manik Angkeran terpesona
melihat emas, intan, dan permata
di hadapannya. Tiba-tiba
ada niat jahat yang timbul dalam
hatinya. Karena ingin
mendapat harta lebih banyak, dengan
secepat kilat
dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga
beputar kembali ke
sarangnya. Manik Angkeran segera
melarikan diri dan tidak
terkejar oleh Naga. Tetapi karena
kesaktian Naga itu,
Manik Angkeran terbakar menjadi abu
sewaktu jejaknya dijilat
sang Naga.
Mendengar kernatian
anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra
tidak terkatakan. Segera
dia mengunjungi Naga Besukih dan
memohon supaya anaknya
dihidupkan kembali. Naga
menyanggupinya asal
ekornya dapat kembali seperti
sediakala. Dengan
kesaktiannya, Sidi Mantra dapat
memulihkan ekor Naga.
Setelah Manik Angkeran dihidupkan,
dia minta maaf dan
berjanji akan menjadi orang baik. Sidi
Mantra tahu bahwa
anaknya sudah bertobat tetapi dia juga
mengerti bahwa mereka
tidak lagi dapat hidup bersama.
"Kamu harus mulai
hidup baru tetapi tidak di sini," katanya.
Dalam sekejap mata dia
lenyap. Di tempat dia berdiri timbul
sebuah sumber air yang
makin lama makin besar sehingga
menjadi laut. Dengan
tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis
yang mernisahkan dia
dengan anaknya. Sekarang tempat itu
menjadi selat Bali yang
memisahkan pulau Jawa dengan
pulau Bali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar