Rabu, 30 Oktober 2013

Kumpulan Cerita Daerah (1)

Berukut ini merupakan beberapa cerita daerah di Indonesia




Sangkuriang
Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat
bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi
nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.
Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing
kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa
anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.
Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti
perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka
anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.

Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan
kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya
Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa
sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan
sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka.
Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah
kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya.
Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu
ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia
akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang
akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya.
Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah
total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang
tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh
kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang
melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan,
Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya
Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala
calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan. Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan
kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib
untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota,
Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia
pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah
oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat
yang diminta Dayang Sumbi. Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."




LEGENDA CANDI PRAMBANAN
Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya. Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya.

Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang  juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung. Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan
ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus. Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan.

Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai. Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.






Aryo Menak
Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau
Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat.
Ladang-ladang padi menguning. Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.
Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul
keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka.
Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadaribidadari itu.
Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan
bergegas mengambil pakaiannya masing-masing.
Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang
termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa
selendangnya. Iapun sedih dan menangis.
Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura
tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang
terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: "Ini
mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari
berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah
bersedih. Saya akan berjanji menemani dan
menghiburmu."  Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya
Menak. Iapun tidak menolak ketika Arya Menak
menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya
Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari
itupun menerimanya.
Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan
gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir
beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh
menyaksikannya.
Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras
di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun
bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak
ada dirumah, ia mengendap ke dapur dan membuka
panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini
membuat kekuatan gaib isterinya sirna.
Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi.
Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya
Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin
berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah
kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika
dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu
melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk
pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan
kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi
ringan, iapun dapat terbang ke istananya.
Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena
keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak
saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk
memakan nasi.


Si Lancang
Alkisah tersebutlah sebuah cerita,
di daerah Kampar pada zaman dahulu
hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup
dengan sangat miskin. Mereka berdua
bekerja sebagai buruh tani.
Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat
merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan
guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau
orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan
kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si
Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.
Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya
menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya
untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus
lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.
Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang
sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya.
Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang.
Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka
semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya.
Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam
keadaan yang sangat miskin.
Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam
pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama
mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat
hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain
sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan
kemewahan dan kekayaan Si Lancang.
Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya.
Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk
menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut.
Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain
selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh
tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke
geladak kapal mewahnya Si Lancang.
Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si
Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang
mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua
tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia
ngotot minta untuk dipertemukan dengan anaknya Si
Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan.
Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang
dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat
itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa
perempuan compang camping yang diusir itu adalah
ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ...
anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu.
Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang
menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin
aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu.
Kelasi! usir perempuan gila ini."
Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan
hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil
pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk
padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu
diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru
pusakanya. Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si
Anak durhaka itu."

Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut
berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap
menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang.
Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta
benda miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain
sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri
Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya
terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai
Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah.
Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar
hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama
Danau Si Lancang.



Terjadinya
Danau Toba
Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani
yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah
tersebut sangatlah kering. Syahdan, pemuda itu hidup
dari bertani dan memancing ikan. Pada suatu hari ia
memancing seekor ikan yang sangat indah. Warnanya
kuning keemasan. Begitu dipegangnya, ikan tersebut
berubah menjadi seorang putri jelita. Putri itu adalah
wanita yang dikutuk karena melanggar suatu
larangan. Ia akan berubah menjadi sejenis mahluk
yang pertama menyentuhnya. Oleh karena yang
menyentuhnya manusia, maka ia berubah menjadi
seorang putri.
Terpesona oleh kecantikannya, maka pemuda tani

tersebut meminta sang putri untuk menjadi isterinya.
Lamaran tersebut diterima dengan syarat bahwa
pemuda itu tidak akan menceritakan asal-usulnya
yang berasal dari ikan.Pemuda tani itu menyanggupi
syarat tersebut. Setelah setahun, pasangan suami istri
tersebut dikarunia seorang anak laki-laki. Ia
mempunyai kebiasaan buruk yaitu tidak pernah
kenyang. Ia makan semua makanan yang ada.
Pada suatu hari anak itu memakan semua makanan
dari orang tuanya. Pemuda itu sangat jengkelnya
berkata: "dasar anak keturunan ikan!"Pernyataan itu
dengan sendirinya membuka rahasia dari
isterinya.Dengan demikian janji mereka telah
dilanggar.
Istri dan anaknya menghilang secara gaib. Ditanah
bekas pijakan mereka menyemburlah mata air. Air
yang mengalir dari mata air tersebut makin lama
makin besar. Dan menjadi sebuah danau yang sangat
luas. Danau itu kini bernama Danau Toba


Si Sigarlaki dan Si Limbat
Pada jaman dahulu di Tondano hiduplah seorang pemburu perkasa yang
bernama Sigarlaki. Ia sangat terkenal dengan keahliannya menombak.
Tidak satupun sasaran yang luput dari tombakannya.
Sigarlaki mempunyai seorang pelayan yang sangat setia yang bernama
Limbat. Hampir semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Sigarlaki
dikerjakan dengan baik oleh Limbat. Meskipun terkenal sebagai pemburu
yang handal, pada suatu hari mereka tidak berhasil memperoleh satu ekor
binatang buruan. Kekesalannya akhirnya memuncak ketika Si Limbat
melaporkan pada majikannya bahwa daging persediaan mereka di rumah
sudah hilang dicuri orang.
Sangkuriang Pada jaman dahulu Page 10 of 11
file://C:\Users\qqqq\AppData\Local\Temp\~hh864F.htm 12/30/2009
Tanpa pikir panjang, si Sigarlaki langsung menuduh pelayannya itu yang
mencuri daging persediaan mereka. Si Limbat menjadi sangat terkejut.
Tidak pernah diduga majikannya akan tega menuduh dirinya sebagai
pencuri.
Lalu Si Sigarlaki meminta Si Limbat untuk membuktikan bahwa bukan dia
yang mencuri. Caranya adalah Sigarlaki akan menancapkan tombaknya
ke dalam sebuah kolam. Bersamaan dengan itu Si Limbat disuruhnya
menyelam. Bila tombak itu lebih dahulu keluar dari kolam berarti Si Limbat
tidak mencuri. Apabila Si Limbat yang keluar dari kolam terlebih dahulu
maka terbukti ia yang mencuri.
Syarat yang aneh itu membuat Si Limbat ketakutan. Tetapi bagaimanapun
juga ia berkehendak untuk membuktikan dirinya bersih. Lalu ia pun
menyelam bersamaan dengan Sigarlaki menancapkan tombaknya.
Baru saja menancapkan tombaknya, tiba-tiba Sigarlaki melihat ada seekor
babi hutan minum di kolam. Dengan segera ia mengangkat tombaknya
dan dilemparkannya ke arah babi hutan itu. Tetapi tombakan itu luput.
Dengan demikian seharusnya Si Sigarlaki sudah kalah dengan Si Limbat.
Tetapi ia meminta agar pembuktian itu diulang lagi.
Dengan berat hati Si Limbat pun akhirnya mengikuti perintah majikannya.
Baru saja menancapkan tombaknya di kolam, tiba-tiba kaki Sigarlaki digigit
oleh seekor kepiting besar. Iapun menjerit kesakitan dan tidak sengaja
mengangkat tombaknya. Dengan demikian akhirnya Si Limbat yang
menang. Ia berhasil membuktikan dirinya tidak mencuri. Sedangkan
Sigarlaki karena sembarangan menuduh, terkena hukuman digigit kepiting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar